<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cerita bahasa</title>
	<atom:link href="http://firstedu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://firstedu.wordpress.com</link>
	<description>menulis untuk mengetahui....</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 May 2008 02:47:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='firstedu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cerita bahasa</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://firstedu.wordpress.com/osd.xml" title="cerita bahasa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://firstedu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MENCARI CITRA DI ATAS DADA PENUH TATO</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/12/mencari-citra-di-atas-dada-penuh-tato/</link>
		<comments>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/12/mencari-citra-di-atas-dada-penuh-tato/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 02:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[desa adat]]></category>
		<category><![CDATA[globalisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://firstedu.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[◙Ketenaran Bali di luar negeri dimulai pada waktu yang sangat jauh: Periode Kolonial. Dimulai dari buku dan memoir perjalanan para penjelajah negeri atau pelaut atau para misionaris. Masih ingat buku yang amat klasik itu, The Island of Bali, karya Migule Covarrubias? Akhir-akhir ini orang Bali mulai ambil peran untuk membahasakan dirinya. Ini salah satu buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=8&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">◙Ketenaran Bali di luar negeri dimulai pada waktu yang sangat jauh: Periode Kolonial. Dimulai dari buku dan memoir perjalanan para penjelajah negeri atau pelaut atau para misionaris. Masih ingat buku yang amat klasik itu, <em>The Island of Bali</em>, karya Migule Covarrubias? Akhir-akhir ini orang Bali mulai ambil peran untuk membahasakan dirinya. Ini salah satu buku oleh orang Bali. Jadi, tak cukup hanya Clifford Gertz (?).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span id="more-8"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bali tak pernah bakal lepas dari tiga citra yang melekat pada dirinya. Sebuah pulau<span>  </span>turisik, masyarakat yang homogen, serta<span>  </span>kebudayaannya yang ajeg.<span>  </span>Citra itu pulalah yang menjadikan Bali begitu eksotis, sehingga muncullah berbagai sebutan sekaligus pujian untuk Bali, seperti <em>The Last Of Paradise, </em>Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata, serta Pulau Para Dewa. Turis mancanegara serta domesik semakin berhasrat<span>  </span>mengunjungi Bali, <span> </span>sampai-sampai ada ungkapan, hidup ini belum terasa lengkap jika belum pernah ke Bali. Seiring dengan semakin ramainya wisatawan yang berkunjung ke Bali, masyarakat Bali pun merasa semakin diuntungkan. Banyak wisatawan berarti lebih banyak peluang untuk mendapatkan uang. Tak bisa dipungkiri memang, sejak berkembangnya pariwisata Bali, kehidupan perekonomian masyarakat Bali semakin baik. Tapi pernahkah kita berpikir, dari mana datangnya citra yang melekat pada Bali itu?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pertanyaan itu mungkin tak pernah terbayang di benak kita. Mungkin juga terlalu sulit untuk kita jawab. Tidak hanya sampai di sana. Citra itu juga berimplikasi secara luas pada tatanan serta sikap hidup orang Bali. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Buku berjudul GLOBALISM (Pergulatan Politik Representasi atas Bali) ini ditulis oleh A.A. G.N. Ari Dwipayana, seorang<span>  </span>dosen di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM. Buku ini mengupas secara mendetail, bagaimana citra itu bisa melekat pada Bali serta apa saja implikasinya bagi Bali. Ilustrasi pada sampul depan buku ini, cukup memberikan gambaran betapa Bali kini telah megalami perubahan. Seorang pria yang mengenakan pakaian adat madya, bertelanjang dada dan penuh tato pada bagian dada serta tangannya, adalah pemandangan yang mungkin agak kontras dengan citra yang dimiliki Bali, sehingga terkesan aneh. Itulah yang menjadi daya tarik pertama buku ini. Orang<span>  </span>Bali bertato. Itu<span>  </span>biasa. <span> </span>Tapi mengapa sampul buku ini terasa aneh? Mungkinkah karena tidak sesuai dengan salah satu citra yang dimiliki Bali.<span>  </span>Keajegan budayanya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Buku yang ditulis oleh pria kelairan Ubud ini, terdiri atas 27 tema tulisan dan terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama, memuat kumpulan tulisan seputar politik identitas dan imigran. Pada bagain ini penulis membahas, fenomena pengembangiakan (hibriditas) idenitas orang Bali. Dalam proses hibriditas identitas itu, konflik dan integrasi sosial dalam masyarakat Bali akan bersifat elastis dan fluktuatif. Pada saat tertentu, batas-batas identitas itu akan menjadi sumber konflik, namun pada saat yang lain batasan tersebut tidak relevan lagi sehingga dirumuskan pembeda yang baru. Dipaparkan pula, bagaimana konflik dan integrasi sosial di Bali juga sangat dipengaruhi oleh kehadiran klompok migran. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bagain kedua buku ini membicarakan tema-tema yang cukup luas, mulai soal politik representasi atas Bali sampai pada pandangan tentang kekuasaan, serta wacana ajeg Bali yang sangat memengaruhi sistem reproduksi ideasional orang Bali saat ini. Bagian ketiga, membahas seputar problematika yang dihadapi desa adat.<span>  </span>Pada bagian keempat, secara khusus mambahas gejala konflik, kekerasan dan pluralisme di Bali. Penulis menelusuri, hubungan antara agama dengan kekerasan yang terjadi. Bagian terakhir buku ini, memuat ajakan untuk meninggalkan pemahaman keagamaan yang sempit dan formal menuju ke bentuk spiritualisme sosial sehingga terbentuk perilaku religiusitas kolektif (sosial).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan gaya penulisan yang menarik, buku ini sangat meyenangkan. Meski bahasa yang digunakan kadang memaksa pembaca berkerut dahi memahaminya, karena penulis kadang menggunakan istilah-istilah asing yang tidak disertai penjelasan atau istilah keilmuan yang kurang populer di masyarakat. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi daya tarik, bahwa buku ini sangat penting dibaca oleh pemerhati budayaan, peminat ilmu sosial, serta masyarakat secara luas. Bukan untuk menentang globalisasi atau memuja tradisionalitas namun memikirkannya secara kritis serta proporsional. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Resensi ini aku buat sebagai sebuah apresiasi atas karya yang luar biasa. Aku seneng, orang bali mulai mendefinisikan dan kritis terhadap dirinya sendiri, yang biasanya hal itu dilakukan oleh orang lain&#8230;</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/firstedu.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/firstedu.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/firstedu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/firstedu.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=8&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/12/mencari-citra-di-atas-dada-penuh-tato/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac6ce245a4ec68f76744f70dc4942e7b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JUAL RUANG PUBLIK, ABAIKAN MASYARAKAT</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/jual-ruang-publik-abaikan-masyarakat/</link>
		<comments>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/jual-ruang-publik-abaikan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 04:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[budaya konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://firstedu.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[ Ruang-ruang publik seyogyanya menjadi ruang yang bebas intervernsi. Iklan-ikalan yang bertebaran di ruang-ruang publik, disadari atau tidak akan berpengaruh pada pandangan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi adalah pihak yang paling strategis serta bertanggungjawab untuk memanajeman hal itu. Maraknya pembangaunan fasilitas-fasilitas publik seperti, taman bermain, taman kota, dan monumen, menjadikannya sebagai tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=6&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> <strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ruang-ruang publik seyogyanya menjadi ruang yang bebas intervernsi. Iklan-ikalan yang bertebaran di ruang-ruang publik, disadari atau tidak akan berpengaruh pada pandangan masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi adalah pihak yang paling strategis serta bertanggungjawab untuk memanajeman hal itu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span id="more-6"></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Maraknya pembangaunan fasilitas-fasilitas publik seperti, taman bermain, taman kota, dan monumen, menjadikannya sebagai tempat yang sangat stategis bagi masyarakat untuk berkumpul dan melakukan aktivitas secara komunal. Peluang ini, seringkali juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak pengusaha untuk mempromosikan produk-produknya kepada khalayak, calon-calon konsumen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pengiklanan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Iklan merupakan bentuk komunikasi, produsen sebagai sumber informasi dan konsumen sebagai sasarannya. Iklan berfungsi sebagai alat meyakinkan atau mempersuasi masyarakat agar mengubah sikap dan prilaku. Untuk memberikan masyarakat bayangan tentang apa yang harus dikonsumsinya, produsen barang dan jasa pun belomba-lomba melakukan pengiklanan. Iklan-iklan ini berupaya mempengaruhi dan menghegemoni pikiran calon konsumen dan konsumen dengan ideal-ideal yang ia sampaikan, tentang pentingnya produk itu dikonsumsi, tentang kelebihan produk, dan manfaat yang bisa diberikan. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sarana penyampaian iklan ini, pada umumnya menggunakan media massa baik elektronik maupun cetak. Bahkan tidak jarang media yang hidup dari iklan. Belakangan muncul kecendrungan penggunaan tempat-tempat umum seperti taman kota, tepi-tepi jalan, dan tempat-tempat umum lainya digunakan sebagai tempat melakukan promosi. Misalnya dengan mengadakan perkenalan produk baru di suatu taman kota, masyarakat akan berminat untuk menyaksikan atau terlibat didalamanya. Cara lain yang banyak dilakukan adalah dengan memasang poster terkait produknya di tempat-tempat itu. Ada juga beberapa produsen yang menyediakan fasilitas-falitas publik seperti tempat sampah, lampu taman, dan fasilitas lain tentunya dengan menyertakan identitasnya pada benda-benda itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebagai salah satu kegiatan ekonomi, pada batas tertentu sangat wajar pengiklanan dilakukan di ruang-ruang publik. Dalam hal ini, pihak pengiklan akan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang menguasai atau memanajeman ruang publik, yaitu pemerintah. Namun ketika pengadaan fasilitas-fasilitas publik seperti tempat sampah dan lampu-lampu taman juga ditangani produsen produk tertentu yang sekaligus digunakan sebagai media pengiklanan, pemerintah sebetulnya melepaskan tanggungjawabnya.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ruang-ruang publik besarta fasilitas yang ada di dalamnya semestinya menjadi tanggungjawab pemerintah, sebagai pemegang kendali kebijakan-kebijakan. Ketika ruang-runang publik “dijual” dan sepenuhnya dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengilkankan produk, ruang publik sebetulnya telah kehilangan privasinya. Ia tak akan pernah benar-benar menjadi netral dan sepenuhnya untuk masyarakat. Ketika masyarakat datang ke ruang publik, yang dinikmati bukan hanya ruang publik tapi juga iklan atas produk tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Budaya konsumsi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sebagai dampak dari pengiklanan, akan muncul keinginan untuk mengkonsumsi produk yang diiklankan. Jika hal ini, melebihi batas kewajaran manakala masyarakat tak tau lagi perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, kita telah benar-benar menjadi masyarakat konsumtif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Indikasi semacam inilah yang mulai menjalar pada pikiran dan perilaku masyarakat. Kosumsi menjadi aktivitas yang tak akan pernah berakhir, berjalan searah dengan faktor produksi. Bahkan Baudrillard berpendapat, konsumsi yang berlebihan dan tidak bergunalah yang memungkinkan orang dan masyarakat merasa bahwa mereka sepenuhnya hidup. Dalam konteks ini yang dikonsumsi bukan hanya sekadar benda atau jasa, tetapi lebih dari itu adalah citra. Konsumsi atas barang atau jasa, tak hanya bermakna bahwa kita telah menikmatinya, tapi lebih dari itu adalah kita telah menambah citra diri kita dengan apa yang kita konsumsi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Telepon genggam, kini bukan semata-mata dipandang dari segi funginya sebagai alat komunikasi, tapi ia juga mengandung citra modernitas. Dengan demikian, suatu produk tidak lagi dikonsumsi berdasarkan nilai kegunaannya, melainkan berdasarkan sistem kode atau makna yang dikandung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Peran pemerintah</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi, akan menjadi filter atas kepentingan-kepentingan<span>  </span>produsen dalam menyampaikan iklan di ruang-ruang publik. Untuk memasang poster di taman kota misalnya, pihak produsen harus memperoleh izin dari pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah merupakan pihak yang sangat berkompetan dalam mengarahkan pola konsumsi dan persepsi masyaraklat tentang konsumsi, melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Salama ini, pemerintah tampaknya memberi kebebasan bagi produsen untuk melakukan promosi, tanpa memerhatikan dampaknya lebih lanjut bagi masyarakat. Bahwa masyarakat mungkin akan sangat “termakan” oleh iklan-iklan yang disampaikan, sama sekali tak diperhitungkan pemerintah. Meskipun dengan memberikan ruang bagi pihak yang berkentingan untuk memasang iklan pemerintah mendapatkan keuntungan materi, dampak yang muncul terutama bagi masyarakat juga mestinya tidak dilupakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Keuntungann dan kerugian bagi pemerintah, hendaknya jangan hanya dipandang dari segi materi, tapi juga aspek yang bersifat psikologis. Ketika masyarakat, menjadi masyarakat konsumtif, yang tanpa kesadaran mengkonsumsi tanpa henti, melampaui batas kebutuhan bahkan kemampuannya, pemerintah mesti memandangnya juga sebagai kerugian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Budaya konsumsi sebagai bagian dari globalisasi, memang sangat tidak mungkin untuk dihindari. Dengan demikian, upaya pemerintah dalam menghindari tumbuhnya masyarakat konsumtif akan menemui hambatan yang tidak sedikit. Harus kita akui, melepaskan diri dari globalisasi untuk menghindari tumbuhnya masyarakat konsumtif hampir tidak mungkin. Sampai di sana, bukan berarti kita menyerah, pasrah untuk kemudian tidak melakukan apapun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Yang paling mungkin dilakukan adalah memanajen arus informasi yang mendorong terbentuknya masyarakat konsumtif secara proporsional. Ruang-ruang publik yang semestinya netral, memiliki privasi, benar-benar milik publik hendaknya jangan dijual hanya demi kepentingan sesaat.<span>  </span>Apakah tugas pemerintah, selesai sampai di sana? Tentu tidak. Penumbuhan kesadaran pada masyarakat tentang konsumsi juga mesti diupayakan. Jika konsumsi merupakan kenisayaan di zaman globalisasi ini, setidaknya kita melakukan dengan sewajarnya dan dengan kesadaran. ◙</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/firstedu.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/firstedu.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/firstedu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/firstedu.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=6&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/jual-ruang-publik-abaikan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac6ce245a4ec68f76744f70dc4942e7b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lengkung Romanesk di Ujung Karangasem</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/lengkung-romanesk-di-ujung-karangasem/</link>
		<comments>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/lengkung-romanesk-di-ujung-karangasem/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 03:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[karangasem]]></category>
		<category><![CDATA[taman ujung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://firstedu.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Taman Ujung  Karangasem, merupakan salah satu kawasan wisata andalan Karangasem. Sebuah taman air, yang mengandung sisa-sisa kemegahan masa lalu, dan eksotisme pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Lokasi Taman Ujung  ini, hanya sekitar 8 kilometer dari kota Amlapura, dan 85 kilometer dari kota Denpasar. Taman Ujung  ini dibangun pertama kali oleh Raja Karangasem A.A. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=5&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:24pt;"></span></strong></p>
<div class="Section2">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Taman Ujung <span> </span>Karangasem, merupakan salah satu kawasan wisata andalan Karangasem. Sebuah taman air, yang mengandung sisa-sisa kemegahan masa lalu, dan eksotisme pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Lokasi Taman Ujung<span>  </span>ini, hanya sekitar 8 kilometer dari kota Amlapura, dan 85 kilometer dari kota Denpasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span id="more-5"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Taman Ujung<span>  </span>ini dibangun pertama kali oleh Raja Karangasem A.A. Gde Djelantik pada tahu 1902. Ketika itu, yang dibangun hanya kolam Dirah yang terletak di bagian selatan. Pembangunan berikutnya dilanjutkan pada masa pemerintahan raja A.A. Bagus Djelantik, hingga tahun 1920. Pada awalnya, Taman Ujung<span>  </span>ini, digunakan sebagai tempat peristirahatan raja, dan menjamu tamu-tamu penting kerajaan. Pada masa perang dunia ke-2, tempat ini dirusak oleh angkatan perang Jepang, dan dialihfungsikan untuk keperluan militer. Jeruji-jeruji besi yang ada dikawasan taman dicabut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kerusakan Taman Ujung<span>  </span>tak hanya berakhir oleh Jepang. Letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963 dan gempa bumi Seririt tahun 1976, semakin memporak porandakan Taman Ujung. Kemegahan dan keindahan Taman Ujung<span>  </span>menjadi puing-puing masa lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Membangun kembali kemegahan masa lalu</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mulai tahun 1998, pemerintah kabupatan Karangasem, bersepakat dengan pihak puri untuk membangun kembali Taman Ujung, sebuah peninggalan masa lalu yang terlalu sayang diabaikan.<span>  </span>Upaya perbaikan pada tahun 1998 merupakan tahap pertama. Tahap kedua, dilakukan pada tahun 2000. Pihak pemerintah kabupaten menyediakan dana sebesar 2 miliyar. Dana itu tentu saja tak cukup untuk melakukan perbaikan secara maksimal. Karenanya, pemerintah juga mengadakan kerja sama dengan <em>Cultural Heritage Conservation</em>. Kini, 6 tahun telah berlalu, setelah Taman Ujung<span>  </span>diperbaiki, kemegahan itu tidak lagi terlihat sebagai puing-puing masa lalu. Kemegahan itu telah menyisakan dirinya untuk generasi sekarang juga yang akan datang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sebagai objek wisata andalan Karangasem, objek wisata Taman Ujung terus dikembangkan. Bukan saja penataan dan perawatan di areal taman, melainkan diluar, seperti tempat parkir, dan papan penunjuk untuk mencapai Taman Ujung<span>  </span>yang dipajang di tepi-tepi jalan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menapak taman </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Berkat papan-papan petunjuk perjalan menuju ke Taman Ujung, perjalan kami siang itu terasa tak terlalu sulit. Kami hentikan perjalan ketika di tepi kiri jalan terlihat gerbang besar dengan tulisan TAMAN SOEKASADA. Di depan gerbang itu terdapat dua buah patung yang merupakan salah satu ikon Hindu-Bali di sisi kiri dan kanannya.<span>  </span>Inikah Taman Ujung ? pikir saya. Mengapa pintu gerbang yang sedemikian megah tergembok dan tampak tak terawat. Tanaman liar yang tumbuh dengan bebas mengatakan itu. Dibalik gerbang, 12 buah pilar beton berukir dan berwarna putih, dengan lumut yang menyelimutinya berdiri angkuh di atas lantai berbentuk persegi, setinggi satu meter di atas tanah, seperti bekas bangunan yang kini telah tak berfungsi lagi. </span></p>
</div>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bagian atas pilar-pilar yang terletak di pinggir, disatukan oleh tembok melengkung, bergaya Romanesk layaknya bangunan-bangunan kuno di Eropa. Pada tembok yang menghubungkan pilar satu dengan pilar yang lain,<span>  </span>terdapat ukiran kepala singa yang terbuat dari batu cadas putih. Tangga putih yang menghubungkan tanah dan lantai tampak masih utuh. Satu meter dari tangga itu, terdapat sebuah bekas kolam, berbentuk lingkaran namun terbelah oleh jalan menuju gerbang yang terkunci rapat. Pertanyaan saya yang tak terucap, terjawab setelah saya melanjutkan perjalan beberapa puluh meter ke selatan. Tampak tiga buah kolam besar dangan bangunan-bangunan yang megah diatasnya. Rumput-rumput hijau dan tanaman hias berukuran besar dan kecil menghiasi tempat itu. Agak jauh, di atas bukit, terdapat patung besar menyerupai badak yang memuntahkan air dari mulutnya, dibawahnya juga ada patung yang menyerupai kepala penyu, dan yang paling bawah,<span>  </span>patung lembu yang juga memuntahkan air menuju kolam dibawahnya. Pemandangan yang sangat indah. Pasti, inilah Taman Ujung.<span>  </span>Reruntuhan bangunan yang ada dibalik gerbang terkunci tadi adalah salah satu bagiannya. Untuk bisa menikmati taman ini, tentu tak cukup melihat dari luar saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Untuk masuk ke kawasan taman, kita terlebih dahulu harus membeli tiket di loket, yang terletak di depan pintu masuk taman, tak jauh dari tempat parkir. Biaya masuk, antara orang lokal dalam artian masyarakat Bali, berbeda dengan witawan asing yakni Rp. 3.500, untuk orang Bali, dan Rp 10.000,00 untuk wisatawan asing. Hanya saja orang lokal tak akan memperoleh tiket masuk layaknya tamu-tamu yang membayar Rp. 10.000,00. Untuk mencapai taman, kita harus melewati sebuah jembatan kecil khusus pejalan kaki. Jembatan itu dipagari dengan tembok setinggi satu meter. Di atas tombok itu berjejer tanaman hias dan patung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Angin siang itu menghembuskan kesejukan, ketika kami masuk ke taman. Rumput hijau membentang di pinggir jalanan taman. Di kolam, ikan-ikan<span>  </span>berkejaran, sesekali menabrak batang teratai, hingga <em>capung</em> yang tengah istirahat pada bunga teratai itu, terbang mencari teratai mekar lain, tempatnya mengkuncupkan sayap. Sebuah perahu, biru berpadu kuning dan merah ditambatkan di bagian tepi kolam. Tampaknya sudah cukup lama tak digunakan. Sampah plastik dan kaleng minuman <em>pocari sweat</em> mengambang pada bagian dalam perahu. Tak lama setelah bunyi <em>crek</em> dari kamera saya, datang seorang lelaki setengah baya, memindangkan perahu, membuatnya lebih rapat ke bagaian tepi kolam sehingga lebih mudah dibersihkan. Selesai dibersihkan perahu itu di dayung ke bagian tengah kolam. Kini lelaki itu, tampak sibuk mengais gang-gang yang tubuh subur di kolam. Belum rasanya puas menikmati pemandangan kolam, sudah ada hal lain yang menarik untuk dinikmati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Di tengah kolam itu, terdapat tiga buah bangunan yang berjejer vertikal dari arah utara ke selatan. Ketiga bangunan itu dihubungkan oleh jembatan kecil. Dua bangunan kecil, yang ada di tepi kolam mengapit bangunan besar yang ada di tengah-tengah. Bangunan-bangunan kecil itu, berfungsi sebagai pintu masuk menuju bangunan yang lebih besar. Masuk dari arah utara, dua buah patung, khas Hindu-Bali, menyambut di sebelah kiri dan kanan. Di bawah patung itu terdapat semacam prasasti. Balai Gili Kambang, demikian yang tertulis disana. Untuk mencapai lantai bangunan itu, kita mesti menapak lima buah anak tangga. Ketika masuk ke bagian dalam bangunan, pandangan akan disibukkan dengan berbagaimacam ukiran yang menempel pada dinding-dinding bangunan. Seluruh bagian bangunan itu berwarna putih. Kecuali jeruji pada-jendela-jendela besar yang berwana hitam. Selanjutnya, kita akan melewati jempatan kecil. Kali ini berbeda dengan jembatan yang ada ketika baru masuk kawasan taman. Perbedaannya tampak pada gapura-gapura putih berjejer, diatas tembok-tembok tepi jembatan. Agak berbeda dengan ruangan kecil tadi, ruangan yang ditengan jauh lebi luas. Pada dinding, terpajang foto raja beserta keluarga dan peta taman. Balai Gili Kambang dibagi menjadi beberapa ruangan, dinantaranya ruang tidur raja, ruang keluarga, ruang tidur putra raja dan ruang pengobatan. Ruang-ruang itu tertutup rapat dan tidak dibuka untuk pengunjung. Ketika keluar dari arah selatan, tampak pemandangan sama dengan ketika masuk. Jembatan dengan gapura-gapura dan bangunan kecil di bagian tepi kolam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bagain selatan Balai Gili, juga terdapat sebuah kolam dengan bangunan mengambang ditengahnya. Gaya arsitektur bangunan ini tampak berbeda dengan Balai Gili. Bentuknya sangan khas Bali. Berbeda dengan Balai Gili yang merupakan perpaduan Seni arsitektur Eropa dan Bali. Bangunan ini bernama Balai Wantilan Kambang. Nama itu sangat khas Bali. Mengingatkan kita pada salah satu model bangunan yang terdapat pada tiap banjar atau pura-pura. Bangunan yang khusus diperuntukkan bagi pementasan atau rapat-rapat terbuka bagi warga desa. Sebelum mencapai bangunan itu, kita harus melewati sebuah bangunan kecil yang terbuka. Atapnya hanya tidopang oleh pilar-pilar kayu coklat, memperlihatkan keperkasaannya menahan beban itu. Jempatan kecil yang sama dengan di Balai Gili menghubungkan bangunan kecil itu dengan Balai Wantilan Kambang. Bangunan Wantilan Kambang, tak berdinding. Hanya ada pilar-pilar kayu berwarna coklat yang menopang atap genting itu. Lantainya bertingkat. Pada bagian tengah, lantai dibuat lebih tinggi. Tak ada ukiran atau lukisan sebagai penghias. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dari Wantilan Kambang, di bagian utara, tepatnya di atas bukit tampak bangunan-bangunan beratap genting colat berjejer. Tampaknya, pembangunannya belum selesai. Menerawang lagi keatasnya, tiga buah patung bertingkat, memuntahkan air, semacam pancuran bertingkat. Paling atas adalah patung badak, yang disebut sebagai <em>warak.</em> Di bawahnya patung kepala penyu dan paling bawah patung lembu. Untuk mencapai tempat patung warak, kita harus sedikit mendaki, menapaki jalan dan tangga-tangga yang tampak kurang terawat dan jarang dilalui, meski masih cukup bagus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sebelum sampai, balai bengong berukuran cukup besar telah disiapkan, tempat beristirahat dan melihat pemandangan. Pemandangan taman yang asri, laut yang terbentang tanpa batas, dan perbukitan yang mengijau. Angin berdesir, menerbangkan keletihan bersamanya. Kaki tak akan mampu tertahan lebih lama untuk diam, menahan hasrat keingin tahuan dan penikmatan atas keindahan yang lebih besar di puncak sana. Dari balai bengong, patung warak berjarak hanya sekitar seratur lima puluh meter. Perjalan yang tak akan terasa, karena mata tak akan pernah puas menatap hemparan hijau, sawah-sawah dan bukit, yang terbentang di bagian timur. Sesekali ketika membalikan tubuh untuk sekadar membuang nafas, akan tampak lagi laut biru membiru. Pada bagian barat jalan setapak itu, tampak deretan bangunan, yang sepertinya dirancang untuk rumah tinggal, belum selesai digarap. Tampak dua orang pekerja, masih bekerja menyelesaikan puluhan bangunan yang halaman-halamannya mulai dijalari oleh rumput liar. Ketika sampai di puncak, hanya beberapa meter di sebelah selatan patung Warak, tampak sebuah gua yang tumbus ke bagian utara putung Warak, namun tak bisa dilalui, karena ditutup dengan kayu bekas dahan tumbuhan dan bambu. Gua itu, tepat di bawah patung warak.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dua buah tiang berdiri tegak di bagian belakang patung warak. Ada juga sebuah bangunan terbuka, mirip <em>wantilan</em>, tapi berukuran lebih kecil dan berbentuk memanjang. Mungki sekadar tempat berteduh, atau tempat <em>sesaji</em> dan <em>banten</em>, jika ada upacara agama. Sayang sekali, pada tubuh patung warak, terdapat banyak coretan-coretan, memberikan noda-noda pada keagungan masa silam. Dari sini, Balai Gili dan Bangunan Wantilan tampak kecil. Biru laut tanpa batas dan bukit menghijau tampak sebagai perpaduan alam yang sangat memesona. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pemandangan itu, tak cukup lama bisa kami nikmati. Dengan berlari kecil kami menuruni tangga-tanga berlumut, yang ada di bagian utara patung Warak. Langit telah menjatuhkan titik-titik hujan, yang segera ditelan bumi. Memaksa kami untuk segera bergegas, mencari tempat teduh. Hanya ada satu jepretan terakhir dari kameraku, tepat ketika kami berada di bawah patung warak. Ternyata bukit ini cukup tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/firstedu.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/firstedu.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/firstedu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/firstedu.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=5&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/03/lengkung-romanesk-di-ujung-karangasem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac6ce245a4ec68f76744f70dc4942e7b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGUPAYAKAN MUTU DENGAN UN?</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mengupayakan-mutu-dengan-un/</link>
		<comments>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mengupayakan-mutu-dengan-un/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 03:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional (UN)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://firstedu.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Mengejutkan sekali, ketika salah satu media terkemuka di Bali, memuat sebuah berita sebagai head line dengan judul “Satu SMA di Karangasem 100% tak Lulus”.  Hal ini sama sekali di luar dugaan. Ketidaklulusan tentu saja ada, tapi tak sedramatis itu. Kesempatan ini barang kali lebih tepat kita jadikan momen untuk melakukan refleksi pada sistem pendidikan kita. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=4&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengejutkan sekali, ketika salah satu media terkemuka di Bali, memuat sebuah berita sebagai head line dengan judul “Satu SMA di Karangasem 100% tak Lulus”. <span> </span>Hal ini sama sekali di luar dugaan. Ketidaklulusan tentu saja ada, tapi tak sedramatis itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span id="more-4"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kesempatan ini barang kali lebih tepat kita jadikan momen untuk melakukan refleksi pada sistem pendidikan kita. Bukan semata mencari siapa yang salah, sebab hal itu tak akan memberikan kontribusi memuaskan dalam upaya mengurai benang kusut dunia pendidikan kita. Realitas yang kita hadapi sekarang mengharuskan kita untuk lebih banyak berbenah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan nasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ujian nasional sebagai salah satu upaya dalam peningkatan mutu pendidikan tentu sangat penting untuk diselenggarakan. Hasil ujian nasional akan bermanfaat untuk mengukur kualitas pendidikan secara nasional. Namun sebelum itu, ada beberapa hal lain yang semestinya terpenuhi, di antaranya, kurikulum, isi pendidkan, proses pembelajaran dan evaluasi, kualitas guru, sarana dan prasarana dan buku ajar yang memenuhi standar nasional. Dari beberapa komponen tersebut evaluasi hanyalah sala satunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Komponen-komponen inilah yang belum terealisasi secara utuh dan menyeluruh, sehingga melaksanakan UN sebagai bentuk evaluasi terkesan dipaksakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mutu yang tak merata</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mulai tahun 2004, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah diterapkan di Indonesia. Melalui penerapan kurikulum ini, diharapkan siswa yang menekuni pendidikan di sekolah memperoleh kompetansi yang diinginkan. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang lebih<span>  </span>banyak menekankan pada urutan bahan. Akhirnya siswa hanya menghafal, mengingat dan mengerti teori tapi tidak mampu memaknai dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kendala yang muncul dalam penerapan KBK adalah ketidaksiapan guru dalam menerapkannya. Masih cukup banyak guru yang bingung dan tidak paham tentang <span> </span>KBK. Memang ada sekolah dan guru yang sudah menerapkan KBK dengan benar, namun guru yang tidak mengerti, cenderung masih mengajar dengan pola lama. Ada juga guru yang mengajar dengan nama KBK namun kenyataannya masih menekankan pada pemberian teori-teori sesuai dengan urutan bahan pelajaran. Akhirnya, siswalah yang dirugikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pendidikan di Indonesia bertujuan untuk membentuk manusia yang utuh. Bukan semata-mata mengutamakan perkembangan kognitif, tapi juga memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik. Karena itu, pendidikan moral, religius, dan emosi manjadi penting. Tampaknya, selama ini dunia pendidikan kita mengabaikan faktor ini, sehingga tak heran, sering kita banyak membaca dan dengar di media massa ada beberapa anak yang memilih untuk bunuh diri hanya karena masalah-masalah yang sebenarnya tak terlalu serius. Terlebih di tengah kemajemukan bangsa Indonesia, faktor kepribadian ini justru menjadi penting untuk menumbuhkan rasa solidaritas, persaudara dan demokrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Faktor utama yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan adalah proses belajar yang belum optimal. Tanpa mengabaikan sekolah-sekolah yang telah melaksanakan proses belajar dengan optimal, masih banyak sekolah yang belum melakukannya. Tidak tercapainya proses belajar yang optimal itu mungkin disebabkan keadaan sekolah yang rusak berat, tidak adanya peralatan belajar mengajar yang memadai, dan ada beberapa tempat yang kekurangan guru. Disamping itu, masih cukup banyak guru yang mengajar dengan cara-cara konvensional sehingga tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Hal lain yang juga tak kalah pentingnya dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah kualitas pendidik, guru. Selama<span>  </span>ini kualitas guru, terkesan masih kurang. Hal itu tentu bukan tanpa sebab. Di antaranya, ada beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Hal ini disebabkan oleh, tidak adanya guru yang sesuai. Seperti guru Bahasa Indonesia yang terpaksa mengajar matematika. Jika hal ini dibiarkan, terjadinya kesalahan dalam pembelajaran sangat besar kemungkinannya karena bidang itu bukan keahliannya. Faktor lain adalah rendahnya kualitas calon guru. Selama ini, profesi guru umumnya kurang diminati oleh generasi muda, sehingga yang mencari sekolah keguruan cenderung orang-orang yang tidak lulus di perguruan tinggi lain, tanpa menutup kemungkinan memang ada orang yang benar-benar berminat menjadi guru. Guru yang baik akan muncul dari proses pembentukan dan pendidikan yang baik pula. Jadi merupakan tanggungjawab lembaga pendidikan keguruan untuk selalu mengoptimalkan kualitas pendidikannya,untuk menciptakan guru yang profesional dan mencintai bidangnya. Dengan adanya Undang-undang Guru dan Dosen, setidaknya upaya menciptaka guru-guru yang berkualitas medapatkan angin segar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sarana dan prasarana pendidikan meski bukan faktor utama, juga sangat menentukan kualitas pendidikan. Selama ini sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia terkesan masih kurang. Memang ada beberapa sekolah di perkotaan memiliki sarana dan prasarana yang lengkap seperti perpustakaan, laboratorium dan komputer yang lengkap sehingga siswa mampu berproses dan belajar dengan optimal. Namun di sisi lain, sekolah-sekolah di pedesaan sangat miskin akan hal itu. Jangankan memiliki perpustakaan, lab dan komputer, gedung yang layak pun mungkin tak ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Terkait dengan buku ajar, ada kebijakan untuk memberlakukan buku ajar selama lima tahun, untuk meringankan beban orang tua siswa dalam menanggung beban pendidikan yang memang sudah berat. Di samping faktor waktu berlakunya, hal yang juga yang harus diperhatikan adalah kualitas dan kuantitasnya. Kualitas itu berkaitan dengan sejauh mana buku ajar itu memenuhi kreteria serta tuntutan proses belajar mengajar dan memungkinkan siswa menguasai kompetensinya. Terkait dengan kuantitas, setidaknya peredaran buku ajar itu menjangkau semua sekolah dan siswa, sehingga tidak ada perbedaan dalam materi pelajaran. Siswa juga tidak mengalami kesulitan untuk memperoleh buku ajar itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Perbedaan pemenuhan kebutuhan dalam menunjang dunia pendidikan ini otomatis menciptakan perbedaan mutu masing-masing sekolah. Tentu sulit untuk menerapkan sistem evaluasi bertaraf nasional jika komponen yang dibutuhkan untuk meningkatkan mutu <span> </span>tidak merata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ketimpangan Negeri dan Swasta</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Belum lagi ketimpangan sekolah negeri dan swasta. Sekolah swasta yang semestinya menjadi mitra sekolah negeri berjalan terseok-seok, kurang mendapat perhatian pemerintah. Komponen-komponen penunjang mutu seperti sarana-prasarana, guru, buku ajar, dan proses belajar dan mengajar juga terbatas. Tak lain penyebabnya adalah keterbatasan dana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ada kesan bahwa sekolah swasta megomersialisasi pendidikan sehingga biaya sekolah di swasta lebih mahal. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Sebagai instansi swasta, sumber dana pelaksanaan pendidikan tentu berasal dari siswa. Berbeda dengan sekolah negeri yang mendapatklan bantuan dari pemerintah (yang bersumber dari uang rakyat). Implikasinya, input sekolah swasta lebih rendah dibandingkan sekolah negeri. Siswa menjadikan sekolah negeri sebagai prioritas sedangkan swasta sebagai cadangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Input yang kurang berkualitas ditambah lagi dengan komponen-komponen pendidikan yang kurang memadai, tidak seperti sekolah-sekolah negeri, membuat pelaksanaan sistem evaluasi secara nasional terasa kurang adil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ujian Nasional memang baik untuk menentukan standar mutu secara nasional. Hasil ujuan nasional juga bisa digunakan sebagai bahan evaluasi secara nasional. Namun sebelum hal itu dilaksanakan komponen-komponen penunjang mutu tentu harus merata. Bukan hanya pada sekolah negeri, tapi juga swasta. Saat ini, di sekolah negeri yang menjadi prioritas pengembangan pemerintah pun belum memiliki komponen-komponen penunjang mutu yang sama apalagi sekolah swasta yang cenderung kurang memperoleh perhatian pemerintah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya cukup dengan mengubah sistem evaluasi, terlebih hanya dengan perubahan nama (dari UAN menjadi UN). Hal yang lebih esensial dilakukan adalah dengan melakukan pembenahan dari komponen-komponen yang substansial. Ketika komponen-komponen itu telah tercapai secara utuh dan menyeluruh, ujian nasional tak akan menjadi momok lagi bagi para <em>stake</em> <em>holder</em>nya. ♣</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/firstedu.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/firstedu.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/firstedu.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/firstedu.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=4&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mengupayakan-mutu-dengan-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac6ce245a4ec68f76744f70dc4942e7b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mau Keren? Ya, Belajar Sejarah…!</title>
		<link>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mau-keren-ya-belajar-sejarah%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mau-keren-ya-belajar-sejarah%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 03:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Remy Silado]]></category>
		<category><![CDATA[remy sylado]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[totto chan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://firstedu.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[ Mendengar kata SEJARAH, yang langsung terbayang dalam benak kita pasti adalah setumpuk buku tebal yang telah mulai usang. Warna, lembaran-lemabaran buku itupun mulai kecolkatan, syukur kalau enggak bolong-bolong termakan rayap. Karena itulah, kadang sejarah terasa sangat menakutkan atau tepatnya sangat membosankan untuk dipelajari. Jangankan untuk membaca buku-buku sejarah yang tebal dan kadang membingungkan itu, untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=3&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mendengar kata SEJARAH, yang langsung terbayang dalam benak kita pasti adalah setumpuk buku tebal yang telah mulai usang. Warna, lembaran-lemabaran buku itupun mulai kecolkatan, syukur kalau enggak <em>bolong-bolong</em> termakan rayap. Karena itulah, kadang sejarah terasa sangat menakutkan atau tepatnya sangat membosankan untuk dipelajari. Jangankan untuk membaca buku-buku sejarah yang tebal dan kadang membingungkan itu, untuk membaca artikel kecil aja kadang kita <em>males</em>nya bukan main.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span id="more-3"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau kita mendengar ada orang yang suka sejarah, kita pasti membayangkannya sebagai orang yang suka menyendiri, berkacamata tebal, rambut yang selalu disisir rapi (kayak gaya tahun 60-an gitu) dan seterusnya, pokoknya <em>katrok</em> deh… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalo sikap kita terhadap sejarah kayak gitu, gimana bangsa Indonesia bisa maju. Kita <em>cuma</em> bisa <em>ngomong</em> bahwa kita menghormati pendahulu kita yang telah berjuang mempertaruhkan harta, bahkan nyawa untuk negeri tercinta, tapi apa bentuk penghormatan kita terhadap beliau-beliau itu? Sementara, belajar sejarah aja kita mesti dipaksa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Padahal, sejarah itu penting <em>banget</em> <em>kan</em>… Kalau kalian pernah <em>denger</em>, beberapa waktu lalu buku sejarah sempat menjadi kontroversi, bahkan sampai sekarang. Kontroversi itu terjadi karena sejarah seringkali dipelesetkan atau ditafsirkan secara subjektif. Sejarah yang dalam bahasa Inggrisnya <em>history</em> <em><span> </span></em>sering diplesetkan menjadi<em><span>  </span>his story </em>(cerita menurut dia). Itu menunjukkan, sejarah sangat pantas mendapatkan perhatian istimewa dari kita semua. Bayangkan saja, kalau kita <em>enggak </em>peduli dengan yang namanya sejarah, kita juga tidak akan tahu <em>gimana</em> sebenarnya asal muasal terbentuknya negeri ini. Sekarang mungkin kita sudah tahu <em>dikit-dikit</em>, tapi tentu saja masing banyak <em>banget</em> hal yang belum kita tahu. Makanya, mempelajari sejarah dengan motivasi dan rasa ingin tahu penting <em>banget</em> untuk ditumbuhkan. Kalau kebanyakan di antara kita mempunyai pikiran yang sama untuk memperdalam pengetahuan tentang sejarah, pasti asik <em>banget</em>…. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ketika<em> </em>istirahat di kantin misalnya, yang kita <em>omongin</em> bukan sekadar, gimana sinetron “Cinta Fitri” kemarin, atau, siapa yang menang dalam pertandingan bola kemarin, tapi kita juga membicarakan Bung Karno dan Bung Hatta, G30S PKI, Tan Malaka, Soe Hok Gie, dan lain-lain. Jadi, belajar sejarah tidak hanya <em>pas</em> ada pelajaran sejarah <em>kan</em>….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau minat kita <em>sama</em> yang namanya sejarah sekarang ini masih rendah, ada baiknya kita mencari solusi, agar kita berminat mempelajari sejarah, bukan malah tidak mempelajarinya. Buat kalian yang suka nonton film, mungkin ada baiknya mulai sekarang coba berpetualang mencari film-film yang diangkat dari sejarah. Filmnya <em>enggak</em> mesti dari dalam negeri aja kok. Misalnya, “GIE”, yang ceritanya diangkat dari otobiografi “SOE HOK GIE”, atau “TROY” yang kisahnya diangkat dari perang antara Sparta dan Athena, atau “Memoar of<span>  </span>Geisha” yang merupakan film tentang pelacur kelas atas Jepang di zaman peperangan. Akan lebih asik lagi jika bisa nonton bareng sama teman-teman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bagi kalian yang lebih suka membaca, ada cukup banyak buku sejarah yang perlu dan penting <em>banget</em> untuk dibaca. Kalian bisa mulai dengan membaca novel-novel sejarah. Misalnya, “Sam Po Kong” (Perjalan Pertama) yang ditulis Remy Sylado, mengisahkan pelayaran muhibah ke Nusantara yang dipimpin oleh Ceng Ho, utusan kaisar Ming dari negeri Cina sekitar abad ke-15. Bukti-bukti kisah itu, masih bisa dilihat sampai sekarang, dalam bentuk Klenteng yang ada di Semarang. Ada juga novel yang berjudul “Totto Chan”, ditulis Tetsuko Kurroyanagi. <span> </span>Novel ini diangkat dari kisah nyata penulisnya ketika bersekolah di sekolah dasar yang sangat menyenangkan. Tapi berakhir tragis ketika sekolah itu hancur oleh bom atom pada Agustus 1945, yang kita kenal dengan peristiwa Hirosima dan Nagasaki. Sederet judul novel yang menarik mungkin tak asing bagi kita, ada “Gajah Mada”, yang ditulis Langit Kresna Hariadi, “Gelang Giok Naga” yang ditulis Leny Helena, dan “Ca Bau Kan” yang ditulis Remy Sylado. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau dari menonton film-film sejarah dan novel atau buku-buku sejarah itu minat mempelajari sejarah muncul, pelajaran sejarah pasti akan jadi pelajaran yang sangat menyenangkan. Dengan rasa ingin tahu itu, kita akan dengan semangat dan dengan suka cita “melahap” berbagai sumber informasi tentang sejarah. <em>Ga</em> peduli lagi, apakah itu buku, film, cerita, dan lain-lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pada akhirnya kita memang harus bersyukur, karena kita yang tergolong dalam spesies manusia sajalah yang memiliki definisi <em>pra-ada</em>. Kita bisa tahu <em>gimana</em> dunia ini sebelum kita ada, lewat sejarah. Kalau apa yang terjadi di masa lalu itu merupakan sesuatu yang tidak baik, kita bisa perbaiki. Dan sebaliknya, jika masa lalu itu merupakan hal positif, bisa kita jadikan sebagai teladan. Jadi, kita bisa tingkatkan kualitas kemanusiaan kita dengan belajar sejarah. Kalau begitu, kita bisa buat slogan baru ya, <span> </span>“<em>Engga keren kalau engga tau sejarah</em>!!!” Keren khan….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 288pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">I Dewa Gede Budi Utama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/firstedu.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/firstedu.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/firstedu.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/firstedu.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=firstedu.wordpress.com&amp;blog=3627020&amp;post=3&amp;subd=firstedu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://firstedu.wordpress.com/2008/05/02/mau-keren-ya-belajar-sejarah%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ac6ce245a4ec68f76744f70dc4942e7b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
