MENCARI CITRA DI ATAS DADA PENUH TATO
◙Ketenaran Bali di luar negeri dimulai pada waktu yang sangat jauh: Periode Kolonial. Dimulai dari buku dan memoir perjalanan para penjelajah negeri atau pelaut atau para misionaris. Masih ingat buku yang amat klasik itu, The Island of Bali, karya Migule Covarrubias? Akhir-akhir ini orang Bali mulai ambil peran untuk membahasakan dirinya. Ini salah satu buku oleh orang Bali. Jadi, tak cukup hanya Clifford Gertz (?).
Bali tak pernah bakal lepas dari tiga citra yang melekat pada dirinya. Sebuah pulau turisik, masyarakat yang homogen, serta kebudayaannya yang ajeg. Citra itu pulalah yang menjadikan Bali begitu eksotis, sehingga muncullah berbagai sebutan sekaligus pujian untuk Bali, seperti The Last Of Paradise, Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata, serta Pulau Para Dewa. Turis mancanegara serta domesik semakin berhasrat mengunjungi Bali, sampai-sampai ada ungkapan, hidup ini belum terasa lengkap jika belum pernah ke Bali. Seiring dengan semakin ramainya wisatawan yang berkunjung ke Bali, masyarakat Bali pun merasa semakin diuntungkan. Banyak wisatawan berarti lebih banyak peluang untuk mendapatkan uang. Tak bisa dipungkiri memang, sejak berkembangnya pariwisata Bali, kehidupan perekonomian masyarakat Bali semakin baik. Tapi pernahkah kita berpikir, dari mana datangnya citra yang melekat pada Bali itu?
Pertanyaan itu mungkin tak pernah terbayang di benak kita. Mungkin juga terlalu sulit untuk kita jawab. Tidak hanya sampai di sana. Citra itu juga berimplikasi secara luas pada tatanan serta sikap hidup orang Bali.
Buku berjudul GLOBALISM (Pergulatan Politik Representasi atas Bali) ini ditulis oleh A.A. G.N. Ari Dwipayana, seorang dosen di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM. Buku ini mengupas secara mendetail, bagaimana citra itu bisa melekat pada Bali serta apa saja implikasinya bagi Bali. Ilustrasi pada sampul depan buku ini, cukup memberikan gambaran betapa Bali kini telah megalami perubahan. Seorang pria yang mengenakan pakaian adat madya, bertelanjang dada dan penuh tato pada bagian dada serta tangannya, adalah pemandangan yang mungkin agak kontras dengan citra yang dimiliki Bali, sehingga terkesan aneh. Itulah yang menjadi daya tarik pertama buku ini. Orang Bali bertato. Itu biasa. Tapi mengapa sampul buku ini terasa aneh? Mungkinkah karena tidak sesuai dengan salah satu citra yang dimiliki Bali. Keajegan budayanya?
Buku yang ditulis oleh pria kelairan Ubud ini, terdiri atas 27 tema tulisan dan terbagi menjadi lima bagian. Bagian pertama, memuat kumpulan tulisan seputar politik identitas dan imigran. Pada bagain ini penulis membahas, fenomena pengembangiakan (hibriditas) idenitas orang Bali. Dalam proses hibriditas identitas itu, konflik dan integrasi sosial dalam masyarakat Bali akan bersifat elastis dan fluktuatif. Pada saat tertentu, batas-batas identitas itu akan menjadi sumber konflik, namun pada saat yang lain batasan tersebut tidak relevan lagi sehingga dirumuskan pembeda yang baru. Dipaparkan pula, bagaimana konflik dan integrasi sosial di Bali juga sangat dipengaruhi oleh kehadiran klompok migran.
Bagain kedua buku ini membicarakan tema-tema yang cukup luas, mulai soal politik representasi atas Bali sampai pada pandangan tentang kekuasaan, serta wacana ajeg Bali yang sangat memengaruhi sistem reproduksi ideasional orang Bali saat ini. Bagian ketiga, membahas seputar problematika yang dihadapi desa adat. Pada bagian keempat, secara khusus mambahas gejala konflik, kekerasan dan pluralisme di Bali. Penulis menelusuri, hubungan antara agama dengan kekerasan yang terjadi. Bagian terakhir buku ini, memuat ajakan untuk meninggalkan pemahaman keagamaan yang sempit dan formal menuju ke bentuk spiritualisme sosial sehingga terbentuk perilaku religiusitas kolektif (sosial).
Dengan gaya penulisan yang menarik, buku ini sangat meyenangkan. Meski bahasa yang digunakan kadang memaksa pembaca berkerut dahi memahaminya, karena penulis kadang menggunakan istilah-istilah asing yang tidak disertai penjelasan atau istilah keilmuan yang kurang populer di masyarakat. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi daya tarik, bahwa buku ini sangat penting dibaca oleh pemerhati budayaan, peminat ilmu sosial, serta masyarakat secara luas. Bukan untuk menentang globalisasi atau memuja tradisionalitas namun memikirkannya secara kritis serta proporsional.
Resensi ini aku buat sebagai sebuah apresiasi atas karya yang luar biasa. Aku seneng, orang bali mulai mendefinisikan dan kritis terhadap dirinya sendiri, yang biasanya hal itu dilakukan oleh orang lain…
Belum ada komentar.
Tinggalkan komentar
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- Mei 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS